when me and I were argue.where did myself go?
April 27th, 2008 April 27th, 2008 Posted in tentang akuNo Comments
“mekanismenya tidak seperti itu” bantahku.
itulah penjelasan paling sederhana dari fenomena yang kamu alami.jangan membantah lagi.
“not even close”.”it’s too far awaaaay”.”bantahku lagi.
semuanya mengarah kesitu.cuma kamu yang memalingkan mukamu atau kamu menutup matamu, bodog.
“I’m not even thinking about it.I don’t give it a damn!”
jangan membohongi diri sendiri.
“aku yang lebih mengenal diriku,”
yup.tapi jangan lupa akulah yang mendampingimu selama engkau belajar.akulah yang mengangkatmu saat engkau jatuh,aku yang merawatmu saat engkau terluka,aku yang menghiburmu saat engkau sedih.disaat engkau berhasil, akulah yang memberimu ucapan selamat.disaat engkau sombong,akulah yang memukulmu.
“ya,dan aku sudah berterimakasih padamu untuk semua itu”
terimakasihmu tidak relevan dengan sikapmu sekarang ini.aku coba jelaskan dengan cara paling sederhana.semuanya timbul dari pikiranmu, tidak ada penjelasan lain.bukan karena apa,bukan karena siapa, bukan karena yang lain.
“aku belum pernah mengalami hal itu”
selalu ada awal untuk segala sesuatu.
“aku harap ini bukanlah awalnya”
jangan berharap , maka engkau akan memahami apa yang tidak dapat dipahami.
“bukankah semua ini terjadi karena ada harapan? jika tidak ada harapan tentunya aku tidak akan berusaha segigih ini,bersabar seperti ini,bertahan sekuat ini”
dan darimana timbul harapan itu? apakah itu pemberian cuma cuma? siapa yang bisa menciptakan harapan coba! atau datang dari langit? cuma cahaya matahari,hujan dan bintang jatuh aja yang datang dari atas sana! atau pikiranmu yang menghasilkan sesuatu seperti itu?
“aku rasa , aku sudah berdamai dengan hati dan pikiranku”
perasaan itu penipu.dan kamu sudah tertipu.sebelum itu merugikanmu,berhentilah bermain dengan perasaan.siapa tahu pikiran dan hatimu sedang iri hati pada perasaanmu hingga mereka memalingkan muka darimu.tanyalah baik baik.jangan kamu desak mereka.karena mereka ada karena kamu ada, mereka setia.
“sejak kapan kamu jadi lebih pintar dari aku?”
aku selalu lebih pintar darimu jika engkau bermain dengan perasaan.
“dia menghangatkanku.”
api berguna, dan bisa memusnahkan.
“lebih baik aku memasak air sekarang.”
silakan pergi.